Waspadai Penyebaran Penyakit Ternak

Penyuntikan hewan.[IST]

POSBOGOR.COM – Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Risma Juniarti Paulina meminta peternak mewaspadai penyebaran penyakit hewan ternak seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) seiring berlakunya perdagangan bebas.

“Virus ini berasal dari famili Picornaviridae, gebus Apthovirus,” kata Risma di Bogor, Kamis 20 April 2017.

Risma menjelaskan penyakit mulut dan kaki berdampak luas secara ekonomi bagi peternakan dan kesehatan hewan terlebih di Indonesia. Saat ini, masih ditemukan daging ilegal yang masuk di wilayah perbatasan.

Menurutnya, status Malaysia yang belum seluruhnya bebas dari PMK dan negara tersebut masih mengimpor daging dari India sehingga masuknya daging ilegal merupakan suatu ancaman risiko terhadap masuknya virus PMK ke Indonesia.

Dalam rangka mencari solusi menghadapi situasi tersebut, Risma melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis resiko secara kualitatif terhadap masuknya virus PMK melalui daging ilegal di perbatasan Indonesia-Malayasia.

Pengumpulan data dilakukan menggunakan tekni pengumpulan pendapat pakar, wawancara mendapat dan pengembangan langsung di lapangan, serta publikasi ilmiah maupun tulisan atau data yang tidak dipublikasikan (statistik, dokumen dan laporan dari instansi berwenang).

Penelitian menggunakan responden adalah pelintas batas yakni penumpang dan pengemudi, pemilik rumah makan, petugas di perbatasan, peternak babi, peternak sapi dan petugas dinas terkait.

“Dalam penelitian dilakukan pelepasan, penilaian pendedahan dan penilaian dampak, sehingga diketahui resiko masuknya virus PMK melalui daging ilegal di perbatasan darat Indonesia-Malyasia yakni Entikong,” katanya.

Selanjutnya disusun manajemen risiko untuk menentukan tindakan mengurangi risiko dan komunikasi risiko berdasarkan hasil perkiraan risiko. Estimasi risiko masuknya virus PMK melalui daging ilegal di perbatasan darat Indonesia-Malaysia dinilai sangat rendah.

“Artinya, kemungkinan kejadian pemasukan virus PMK melalui daging ilegal sangat jarang terjadi dengan nilai ketidakpastian rendah,” katanya.

Risma menyebutkan diperlukan manajemen dalam rangka mengurangi risiko mulai proses pelepasan, pendedahan hingga dampak yang ditimbulkan akibat kemungkinan masuknya virus PMK melalui daging ilegal dengan cara melakukan pemeriksaan yang lebih ketat pada semua jalur pengangkutan, pemusnahan daging yang masuk dari Malaysia ke Entikong.

Ia mengatakan, sosialisasi kepada semua pihak terkait peraturan yang berlaku di Indonesia khususnya mengenai PMK serta melakukan ‘surveilans’ dan ‘monitoring’ di tempat-tempat berisiko tinggi. Komunikasi risiko dilakukan sejak dari awal penilaian risiko sampai manajemen risiko ditentukan, melalui komunikasi formal dan non-formal.

Hasil penelitian Risma juga mengungkapkan bahwa diperlukan analisis risiko sebagai alat untuk menentukan kebijakan dalam penyusunan regulasi sehingga kebijakan yang disusun dapat diterima karena telah dikaji atau dianalisis secara ilmiah.

“Analisis risiko terhadap pemasukan daging ilegal di daerah perbatasan lainnya masih perlu dilakukan. Kebijakan perdagangan dengan menstabilkan harga daging serta memprioritaskan pembangunan di daerah perbatasan harus menjadi perhatian pemerintah,” kata Risma.[ANT/SAF]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *